Jumat, 28 Oktober 2016

Mengapa Kita Benci SepakBola Bertahan ?

Oleh : Ignasius Bready

Dalam sepakbola, taktikal adalah elemen penting yang tidak bisa dipisahkan. Kita tentu mengenal gaya tiki-taka yang sempat mengguncang dunia persepakbolaan ketika Pep Guardiola berhasil membawa tim Barcelona menjadi raja eropa dalam medio 2008 -2012 dengan  tiki-taka nya . Mundur jauh sebelum era sepakbola modern, kita juga mengenal total football yang diilhami oleh Rinus Michel yang sampai saat ini dijadikan pakem di beberapa klub eropa terlebih di Belanda. Ini menunjukkan bahwa sebuah taktik dapat berperan penting dalam kuat tidaknya klub tersebut bertahan di kancah pesepakbolaan.

Namun tak semua taktikal yang di praktekkan oleh pelatih sepakbola adalah enak untuk dilihat. Kita ambil contoh, Jose Mourinho, Diego Simeone, dan Claudio Ranieri. Kesamaan dari ketiganya adalah lebih menekankan sepakbola pragmatis. Simple nya begini, anda membangun pertahanan yang kuat, dan serangan balik yang cermat, anda menang. Walaupun dikecam dengan berbagai kritik atas taktik yang diterapkannya, kita setidaknya dapat mengetahui hal yang pasti : mereka adalah pelatih yang sukses.

Tentu tak banyak yang menyukai taktik bertahan dalam sebuah permainan sepakbola, namun jika telusuri lebih dalam, ternyata bertahan dalam pertandingan sepakbola tidaklah semengenaskan itu. Kita ambil contoh Leicester City yang menjadi kampiun sepakbola Inggris di musim 2015/2016 lalu. Skuad asuhan Claudio Ranieri ini mempunyai rataan penguasaan bola total hanya 47 %. Kita bandingkan dengan Arsenal yang mempunyai rataan penguasaan bola total hampir 56 %, lalu Tottenham Hotspurs dengan 54 %. Namun dengan rataan penguasaan bola yang hanya 47 % itulah, Leicester City mampu mengukir sejarah. Basis pertahanan yang kuat disertai serangan balik mematikan adalah senjata ampuh bagi Leicester City. Oleh sebab itu sangat penting bagi sebuah tim yang berorientasi bertahan untuk memiliki pemain cepat dalam posisi-posisi yang vital.

Sepakbola bertahan memang tidak enak ditonton, apalagi oleh penonton yang menginginkan pertunjukkan sepakbola indah. Selain bagian dari sebuah strategi, sepakbola bertahan adalah sebuah keharusan. Tim dengan kedalaman skuad yang semenjana lebih baik bertahan jika menghadapi tim yang diatas kertas lebih unggul. Seorang pelatih harus memiliki basis pertahanan yang kuat jika ingin tim nya bersaing di sebuah kompetisi yang ketat. Dan banyak lagi faktor-faktor yang mengharuskan sepakbola bertahan di terapkan. Maka dari itu, sepakbola bertahan akan lebih menjanjikan pertarungan dari segi taktikal daripada pertarungan yang mempertontonkan keindahan.

Setidaknya Jose Mourinho, Claudio Ranieri, dan Diego Simeone serta banyak lagi pelatih lainnya telah membuktikan bahwa dengan memainkan sepakbola yang bertahan, kesuksesan bisa didapatkan. Karena kunci dari sepakbola bertahan adalah pertahanan yang kuat dan serangan yang mematikan, sehingga dapat dikatakan juga bahwa sepakbola bertahan menontonkan sebuah efektivitas yang sahih. Bukannya kita akan mendapatkan kesenangan tersendiri jika tim yang kita favoritkan memenangi pertandingan dengan memainkan sepakbola yg “efektif” ?.

Akhir dari tulisan ini, saya ingin mengutip salah satu perkataan legendaris dari seorang Sir Alex Ferguson : 

“Attack win your games, defence wins your titles”.

So ? Kenapa kita begitu membenci sepakbola bertahan ?


Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar