Oleh : Ignasius Bready
Peribahasa "Mulut-mu, Harimau-mu" nampaknya harus benar-benar dihayati oleh Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Bagaimana tidak, Ahok lagi-lagi menuai kontroversi atas pernyataan nya di hadapan masyarakat Kepulauan Seribu. Ahok dikecam akibat menyertakan salah satu surah Al-Quran sebagai dalil untuk tidak memilih nya yaitu surah Al-Maidah. Akibat ulah nya ini, Ahok dilaporkan MUI atas tindakan penistaan agama. "Dibohongi pake surah Al-Maidah" adalah kata-kata yang keluar dari mulut seorang Ahok, jelas ini memicu pertentangan di kalangan umat Muslim di Jakarta, bahkan di Indonesia
Ahok pun tidak tinggal diam, beliau pun mengeluarkan klasifikasi jika pernyataan nya itu tidak dimaksud kan sebagai bentuk penistaan agama, melainkan kekecewaan Ahok terhadap orang yang sering mempolitisasi ayat Al-Quran. Banyak penafsiran yang muncul ketika Ahok mengeluarkan statment seperti ini, ad yang pro dan pasti nya lebih banyak yang kontra. Perlu kita ketahui sendiri jika agama adalah sesuatu yang sensitif, bahkan tak jarang agama sering kali memicu adanya tindakan anarkis, dan saya rasa Ahok tahu akan hal itu. Tetapi mengapa Ahok berani nya membawa-bawa unsur agama dalam pidato nya ? Hanya Ahok yang tahu.
Yang jelas tindakan yang dilakukan Ahok merupakan tindakan yang cari mati. Apalagi pernyataan nya ini berhubungan dengan agama. Bukan tidak mungkin tindakan nya ini akan semakin menanamkan citra kurang baik diri nya yang nanti akan maju di Pilgub Jakarta. Elektabilitas Ahok mulai tergerus, dikarenakan masyarakat ingin pemimpin yang sopan dan santun dalam bertutur kata.
Ahok dan ceplas-ceplos memang tidak bisa dipisahkan. Karakter ceplas-ceplos nya lah yang menjadi penguat identitas seorang Ahok. Tapi apakah dengan karakter nya ini Ahok bisa mendulang kepercayaan dari rakyat untuk memimpin Jakarta untuk 5 tahun ke depan ? . Saya rasa sekarang Ahok harus waspada. Waspada "ancaman" dari Anies ataupun Agus yang terlihat lebih kalem dan pendiam.
"Talk Less Do More", slogan salah satu produk rokok ini memang cukup familiar di telinga kita. Yang inti nya mengajak kita lebih banya berbuat dari pada hanya omong doang. Dan Ahok harus mengingat itu, jika Ahok ingin kembali mendapatkan kepercayaan rakyat, perbanyak lah aksi, perbanyak lah perbuatan-perbuatan baik kepada masyarakat, keluarkan lah kata-kata santun dan sopan dari mulut indah mu, dan jangan lah membawa surah Al-Quran atau segala hal tentang agama yang malah akan memperburuk citra anda. Tirulah sikap kalem nya Agus yang terlihat santai walaupun beliau merupakan mantan Jenderal. Tirulah Anies yang selalu tebar senyum dan kesantunan walaupun dicopot jabatan nya oleh Jokowi sebagai menteri Pendidikan. Ahok harus mulai waspada, mengingat masyrakat mulai pintar, mulai tahu mana pemimpin yang baik dan mana yang buruk. Bukan seperti zaman nya Orde Baru ketika rakyat hanya anteng-anteng tunduk kepada kewenangan penguasa.
~
~
~
Dosen saya pernah mengatakan seperti ini dalam pertemuan nya dengan kami "Pemimpin yang baik adalah seseorang yang bisa memengaruhi orang lain, menjadi model, dan disukai banyak orang". Secara tidak langsung pernyataan dosen saya bagaikan peluru tajam yang siap mengenai Ahok. Apakah Ahok pemimpin yang baik ? sementara kesopanan dan kesantunan nya semakin diragukan. Apakah Ahok bisa menjadi model ? sementara ia sering bergelagat kasar. Apakah Ahok bisa disukai banyak orang ? Mungkin, jika ia mau berubah dan bisa sedikit lebih santun dalam bertutur kata. Karena kunci menjadi seorang pemimpin adalah ketika seseorang itu bisa menjaga relasi nya dengan orang sekitar dan membangun kepercayaan yang besar dari orang disekitar. Tanpa mengecilkan semua kontribusi Ahok dalam hal pembangunan dan perkembangan segala hal di Jakarta yang sangat penting, jika Ahok tidak menjaga dan meminimalisir gelagat bicara kasar, nyeplas-nyeplos dan tindakan yang memperburuk citra nya di mata masyarakat, sama saja itu adalah "Blunder"
Hmm mungkin Ahok Memang Harus Berubah.
Salam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar