Oleh : Ignasius Bready
Dalam sepakbola,
taktikal adalah elemen penting yang tidak bisa dipisahkan. Kita tentu mengenal
gaya tiki-taka yang sempat mengguncang dunia persepakbolaan ketika Pep
Guardiola berhasil membawa tim Barcelona menjadi raja eropa dalam medio 2008
-2012 dengan tiki-taka nya . Mundur jauh
sebelum era sepakbola modern, kita juga mengenal total football yang diilhami oleh Rinus Michel yang sampai saat ini
dijadikan pakem di beberapa klub eropa terlebih di Belanda. Ini menunjukkan
bahwa sebuah taktik dapat berperan penting dalam kuat tidaknya klub tersebut
bertahan di kancah pesepakbolaan.
Namun tak semua
taktikal yang di praktekkan oleh pelatih sepakbola adalah enak untuk dilihat.
Kita ambil contoh, Jose Mourinho, Diego Simeone, dan Claudio Ranieri. Kesamaan
dari ketiganya adalah lebih menekankan sepakbola pragmatis. Simple nya begini,
anda membangun pertahanan yang kuat, dan serangan balik yang cermat, anda
menang. Walaupun dikecam dengan berbagai kritik atas taktik yang diterapkannya,
kita setidaknya dapat mengetahui hal yang pasti : mereka adalah pelatih yang
sukses.
Tentu tak banyak yang
menyukai taktik bertahan dalam sebuah permainan sepakbola, namun jika telusuri
lebih dalam, ternyata bertahan dalam pertandingan sepakbola tidaklah
semengenaskan itu. Kita ambil contoh Leicester City yang menjadi kampiun
sepakbola Inggris di musim 2015/2016 lalu. Skuad asuhan Claudio Ranieri ini
mempunyai rataan penguasaan bola total hanya 47 %. Kita bandingkan dengan
Arsenal yang mempunyai rataan penguasaan bola total hampir 56 %, lalu Tottenham
Hotspurs dengan 54 %. Namun dengan rataan penguasaan bola yang hanya 47 %
itulah, Leicester City mampu mengukir sejarah. Basis pertahanan yang kuat
disertai serangan balik mematikan adalah senjata ampuh bagi Leicester City.
Oleh sebab itu sangat penting bagi sebuah tim yang berorientasi bertahan untuk
memiliki pemain cepat dalam posisi-posisi yang vital.
Sepakbola bertahan
memang tidak enak ditonton, apalagi oleh penonton yang menginginkan
pertunjukkan sepakbola indah. Selain bagian dari sebuah strategi, sepakbola
bertahan adalah sebuah keharusan. Tim dengan kedalaman skuad yang semenjana
lebih baik bertahan jika menghadapi tim yang diatas kertas lebih unggul.
Seorang pelatih harus memiliki basis pertahanan yang kuat jika ingin tim nya
bersaing di sebuah kompetisi yang ketat. Dan banyak lagi faktor-faktor yang
mengharuskan sepakbola bertahan di terapkan. Maka dari itu, sepakbola bertahan
akan lebih menjanjikan pertarungan dari segi taktikal daripada pertarungan yang
mempertontonkan keindahan.
Setidaknya Jose
Mourinho, Claudio Ranieri, dan Diego Simeone serta banyak lagi pelatih lainnya
telah membuktikan bahwa dengan memainkan sepakbola yang bertahan, kesuksesan
bisa didapatkan. Karena kunci dari sepakbola bertahan adalah pertahanan yang
kuat dan serangan yang mematikan, sehingga dapat dikatakan juga bahwa sepakbola
bertahan menontonkan sebuah efektivitas yang sahih. Bukannya kita akan
mendapatkan kesenangan tersendiri jika tim yang kita favoritkan memenangi
pertandingan dengan memainkan sepakbola yg “efektif” ?.
Akhir dari tulisan ini,
saya ingin mengutip salah satu perkataan legendaris dari seorang Sir Alex
Ferguson :
“Attack win your games,
defence wins your titles”.
So ? Kenapa kita begitu
membenci sepakbola bertahan ?
Salam.