Oleh : Ignasius Bready
Kesuksesan Donald Trump menjadi Presiden USA ke-45
mengalahkan pesaing utama nya Hillary Clinton memang di luar dugaan semua
orang. Tak terkecuali Bapak, Saya, serta Adik saya. Setelah selesai makan
siang, kami pun duduk menonton tv kecil kami yang kebetulan sedang menayangkan
berita Donald Trump yang menjadi Presiden USA ke-45. Bapak pun membuka mulut
nya dan menyuarakan opini “Siapa yang menyangka si Trump bisa menang”, disahu
dengan lantang oleh adik saya yang benar-benar melek politik. “Memang nya ngapa
pak, si Trump ?”. Saya yang mendengarkan ocehan mereka berdua pun lantas
menyuarakan opini saya yang ditujukan kepada adik saya, atas alasan mengapa
Donald Trump bisa membuat semua orang terkejut. Adik saya yang minim
pengetahuan politik pun saya berikan ceramah, disertai anggukan aneh, entah
sebagai simbol sebuah keantusiasan atau memang dia tidak mengerti apa yang saya
aspirasikan. Saya tidak peduli akan hal itu, namun peristiwa anak-bapak
ngomongin politik ini lah yang membuat saya berdecak kagum, entah kapan momen
seperti ini bisa terulang lagi.
Sebelum saya resmi membaptis diri saya untuk menjadi
pengamat politik amatiran, saya mengenal sosok Donald Trump melalui acara gulat
ecek-ecek,wwe. Dimana seorang Donald Trump dilantik menjadi salah satu Hall Of
Famer. Hall of Famer sendiri adalah sebuah gelar yang diberikan oleh wwe kepada
orang-orang yang memiliki andil cukup besar dalam perkembangan wwe itu sendiri.
Dahi saya mengeryit seketika melihat Donald Trump yang sama sekali tak pernah
memiliki pengalaman gulat pun dilantik menjadi salah satu anggota Hall Of
Famer, yang biasanya diisi oleh legenda-legenda gulat wwe yang sudah pasti
terkenal.
Entah apa yang ada dipikiran rakyat USA sendiri, ketika
memutuskan Donald Trump menjadi pemimpin utama nya. Bahkan banyak media-media
barat populer seperti The Guardian memberikan pandangan nya bahwa ini adalah
“Dark” era untuk publik USA. Bukan tanpa alas an The Guardian menjuluki ini
adalah Dark Era bagi USA. Karena seorang Trump adalah tokoh yang rasis dan
misogynist garis keras dilengkapi dengan sikap egomaniac, bagiamana nasib USA 4
tahun kedepan jika dipimpin oleh orang seperti seorang Trump ?, apakah adagium
“Make America Great Again” menjadi tolak ukur mereka dalam memilih Trump ?,
sehingga mereka mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang sejatinya harus
dijunjung tinggi.
Sekarang kita dihadapkan pada pertanyaan unik. Apakah
seorang Donald Trump akan menepati janji-janji kampanyenya yang sering dengan
lantang dia ucapkan ?, seperti akan membatasi imigran yang masuk Negara USA,
memantik perselisihan dengan para muslim dunia, Pro Israel, akan membangun
tembok pembatas di perbatasan pantai Tijuana, dan yang paling heboh yaitu Trump
berkelakar akan memenjarakan Hillary Clinton akibat skandal e-mail pribadi
Hillary yang sebenarnya sudah diputuskan tidak bersalah oleh FBI. Semua itu
masih perlu bukti, dan bukan tidak mungkin Trump benar-benar akan menepati
janji nya yang sangat cacat logika itu.
Sekarang semua kembali kepada rakyat USA sendiri,
keputusan mereka memilih sang Tuan telah bulat. Walaupun banyak yang tidak
setuju dengan terpilihnya seorang Donald Trump sebagai presiden baru, paling
tidak kita akan melihat sebuah rezim baru di USA. Rezim yang akan dibangun oleh
seorang pengusaha kaya rasis nan misogynist. Rezim yang akan dibangun oleh
seorang pembenci Hispanic. Rezim yang akan dibangun oleh idola Fadli Zon.
Saatnya kita menanti, apakah janji yang diucapkan Trump
akan segera direalisasikan, atau itu cuma bagian dari strategi marketing.
Salam.