Jumat, 11 November 2016

Menagih Janji Sang Tuan

Oleh : Ignasius Bready

            Kesuksesan Donald Trump menjadi Presiden USA ke-45 mengalahkan pesaing utama nya Hillary Clinton memang di luar dugaan semua orang. Tak terkecuali Bapak, Saya, serta Adik saya. Setelah selesai makan siang, kami pun duduk menonton tv kecil kami yang kebetulan sedang menayangkan berita Donald Trump yang menjadi Presiden USA ke-45. Bapak pun membuka mulut nya dan menyuarakan opini “Siapa yang menyangka si Trump bisa menang”, disahu dengan lantang oleh adik saya yang benar-benar melek politik. “Memang nya ngapa pak, si Trump ?”. Saya yang mendengarkan ocehan mereka berdua pun lantas menyuarakan opini saya yang ditujukan kepada adik saya, atas alasan mengapa Donald Trump bisa membuat semua orang terkejut. Adik saya yang minim pengetahuan politik pun saya berikan ceramah, disertai anggukan aneh, entah sebagai simbol sebuah keantusiasan atau memang dia tidak mengerti apa yang saya aspirasikan. Saya tidak peduli akan hal itu, namun peristiwa anak-bapak ngomongin politik ini lah yang membuat saya berdecak kagum, entah kapan momen seperti ini bisa terulang lagi.
            Sebelum saya resmi membaptis diri saya untuk menjadi pengamat politik amatiran, saya mengenal sosok Donald Trump melalui acara gulat ecek-ecek,wwe. Dimana seorang Donald Trump dilantik menjadi salah satu Hall Of Famer. Hall of Famer sendiri adalah sebuah gelar yang diberikan oleh wwe kepada orang-orang yang memiliki andil cukup besar dalam perkembangan wwe itu sendiri. Dahi saya mengeryit seketika melihat Donald Trump yang sama sekali tak pernah memiliki pengalaman gulat pun dilantik menjadi salah satu anggota Hall Of Famer, yang biasanya diisi oleh legenda-legenda gulat wwe yang sudah pasti terkenal.
            Entah apa yang ada dipikiran rakyat USA sendiri, ketika memutuskan Donald Trump menjadi pemimpin utama nya. Bahkan banyak media-media barat populer seperti The Guardian memberikan pandangan nya bahwa ini adalah “Dark” era untuk publik USA. Bukan tanpa alas an The Guardian menjuluki ini adalah Dark Era bagi USA. Karena seorang Trump adalah tokoh yang rasis dan misogynist garis keras dilengkapi dengan sikap egomaniac, bagiamana nasib USA 4 tahun kedepan jika dipimpin oleh orang seperti seorang Trump ?, apakah adagium “Make America Great Again” menjadi tolak ukur mereka dalam memilih Trump ?, sehingga mereka mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang sejatinya harus dijunjung tinggi.
            Sekarang kita dihadapkan pada pertanyaan unik. Apakah seorang Donald Trump akan menepati janji-janji kampanyenya yang sering dengan lantang dia ucapkan ?, seperti akan membatasi imigran yang masuk Negara USA, memantik perselisihan dengan para muslim dunia, Pro Israel, akan membangun tembok pembatas di perbatasan pantai Tijuana, dan yang paling heboh yaitu Trump berkelakar akan memenjarakan Hillary Clinton akibat skandal e-mail pribadi Hillary yang sebenarnya sudah diputuskan tidak bersalah oleh FBI. Semua itu masih perlu bukti, dan bukan tidak mungkin Trump benar-benar akan menepati janji nya yang sangat cacat logika itu.
            Sekarang semua kembali kepada rakyat USA sendiri, keputusan mereka memilih sang Tuan telah bulat. Walaupun banyak yang tidak setuju dengan terpilihnya seorang Donald Trump sebagai presiden baru, paling tidak kita akan melihat sebuah rezim baru di USA. Rezim yang akan dibangun oleh seorang pengusaha kaya rasis nan misogynist. Rezim yang akan dibangun oleh seorang pembenci Hispanic. Rezim yang akan dibangun oleh idola Fadli Zon.
            Saatnya kita menanti, apakah janji yang diucapkan Trump akan segera direalisasikan, atau itu cuma bagian dari strategi marketing.



Salam.